Suraidah, Srikandi Pejuang Pendidikan di Tapal Batas Indonesia

Sudah sering begitu dengar digaungkan bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa. Namun nyatanya, masih banyak generasi muda usia sekolah di Indonesia, yang sama sekali tak bisa mencicipi manisnya pendidikan. Inilah kenyataan yang ingin diubah oleh Suraidah. Srikandi Indonesia satu ini berupaya mencerdaskan anak bangsa yang hidup di salah satu tapal batas Indonesia.

Tinggalkan Profesi Sebagai Dosen Demi Pendidikan Anak di Perbatasan 

Tak semua anak bisa mencicipi pendidikan dengan begitu mudahnya. Seperti halnya, generasi muda Indonesia yang tinggal bersama orang tuanya di area perkebunan Malaysia, dekat dengan Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. Pendidikan bagi anak-anak ini merupakan hal yang mustahil, karena pendidikan hanya tersedia untuk warga asli Negeri Jiran itu saja. 

Kondisi inilah yang mengetuk hati Suraidah, seorang bidan yang juga dulunya mengemban profesi sebagai seorang dosen di Universitas Hasanuddin, Makassar.  Ia tak ingin anak-anak Indonesia yang hidup di tapal batas tersebut tak mengenal negara mereka sendiri. Ia ingin mereka tahu akan betapa luas dan kayanya Indonesia, negeri asal mereka yang sudah lama tak mereka tempati.

Agar bisa mewujudkan impiannya ini, Suraidah sama sekali tak tanggung-tanggung. Ia bersedia melepas profesinya sebagai dosen di kampus tempatnya mengajar, lalu terjun langsung untuk mewujudkan impian anak-anak di perbatasan negara. Sedikit impiannya mulai terwujud dengan didirikannya sekolah tapal batas pada tahun 2014 di Desa Sungai Limau, Pulau Sebatik.

Tantangan dalam Mencerdaskan Anak Bangsa di Tapal Batas Indonesia

Bukanlah hal mudah bagi Suraidah untuk mendapatkan izin orang tua anak-anak Indonesia tersebut untuk bersekolah. Para TKI yang tinggal di area perkebunan milik Malaysia tersebut, awalnya enggan untuk mengizinkan anaknya bersekolah. Alasannya, proses menyeberangi perbatasan yang tak singkat, butuh sekitar 2 jam dengan berjalan kaki untuk bisa mencapai sekolah.

Tak hanya itu saja, tantangan juga datang dari petugas perbatasan. Anak-anak yang ingin bersekolah harus dapat izin dari polisi Malaysia, untuk melintasi perbatasan. Jika melewati perbatasan tanpa izin, siap-siap saja dengan hukuman kurungan selama dua hari. Namun tentu saja tantangan ini tak menyurutkan langkah Suraidah untuk mencerdaskan anak bangsa.

Kegigihan Suraidah bersama dengan guru dan sukarelawan dalam memperjuangkan pendidikan di perbatasan ini, membuahkan hasil berupa kartu jaminan khusus. Kartu jaminan khusus yang diterbitkan Koramil Sebatik Tengah dan Camat Sebatik ini, memungkinkan anak-anak yang bersekolah bisa melintasi perbatasan dengan bebas. 

Hingga sekarang, sekolah tapal batas yang kerap dijuluki sebagai Sekolah Kolong ini sudah punya ratusan siswa. Sekolah yang dulunya hanya berupa kolong rumah dengan dua ruang kelas yang dipisahkan tripleks, kini sudah memiliki ruangan kelas dengan bangku yang lengkap. Keteguhan hati Suraidah dalam mencerdaskan bangsa, membuat banyak pintu hati terketuk untuk turut berpartisipasi.

Apresiasi Ketulusan Hati Suraidah Lewat Kampanye #AwaliDenganKebaikan

Tentu saja ada banyak tantangan yang dihadapi Suraidah dalam membangun sekolah tapal batas di Pulau Sebatik, hingga jadi besar seperti sekarang. Namun, kegigihannya mengalahkan semua tantangan tersebut. Kegigihan hati inilah yang membuat Suraidah tentu sangat pantas mendapatkan kesempatan untuk umroh gratis melalui kampanye #AwaliDenganKebaikan dari Allianz.

Melalui kampanye #AwaliDenganKebaikan, Allianz yang merupakan lembaga asuransi syariah Indonesia, ingin mengajak setiap orang untuk melakukan kebaikan. Sedikit saja kebaikan yang dilakukan terhadap sesama, pasti akan sangat bermanfaat. Sama seperti kebaikan Anda yang memilih produk asuransi syariah Allianz, sebagai bentuk proteksi diri sendiri dan juga keluarga.

0 komentar:

Posting Komentar